Minggu, 14 November 2010

PENDAPATAN NASIONAL

a. Pengertian
Dalam suatu negara terdapat percaturan ekonomi yang dilakoni oleh pelaku di masing-masing sektor. Keistimewaannya terletak ketika terjadi sebuah tolok ukur antara kegiatan ekonomi dan identitas ekonomi. Selain itu, dapat mengetahui perkembangan kemakmuran masyarakat negara secara keseluruhan dan menjadi nilai sebagai cermin untuk lebih memperbaiki sistem perekonomian. Style tersebut dapat diketahui corak serta bentuk penghasilannya bila kita dapat mengkaji masalah “pendapatan nasional”.
Menurut ilmu ekonomi, pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga di suatu negara karena ia telah melakukan kegitan pelaksanaan atau penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu priode, biasanya dilaksanakan selama satu tahun.

b. Sejarah
Asal mula konsep pendapatan nasional dicetuskan oleh Sir William Petty, berasal dari Inggris, ia berusaha menaksir atau mengkaji pendapatan nasional negaranya (Inggris) pada tahun 1665. Dalam penghitungannya, ia beranggapan bahwa pendaptan nasional dapat diperoleh dengan menjumlahkan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Akan tetapi, pendapat ilmuan inggris tersebut tidak disepakati oleh ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam menghitung pendaptan nasional. Menurut mereka, alat utama pengukur kegiatan perekonomian adalah produk nasional bruto (gross national product, GNP), yaitu seluruh jumlah produk baik berupa barang atau jasa yang dihasilkan setiap tahun oleh negara yang bersangkutan, diukur menurut harga pasar pada suatu negara.

c. Konsep
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional:
1. Produk Domestik Bruto (GDP)
Gross Domestic Product adalah jumlah produksi berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit produksi dalam batas wilayah suatu negara (domestic) selama satu tahun. Dalam menghitung GDP termasuk juga di dalamnya hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan atau orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karena jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto atau kotor. PDB/GDP dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga tetap. Pendapatan nasional harga berlaku (pendapatan nasional nominal) adalah nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara selama satu tahun dan dinilai berdasarkan harga yang berlaku pada tahun tersebut. Dan pendapatan nasional pada harga tetap (pendapatan nasional riil) adalah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam satu tahun berdasarkan harga yang berlaku pada tahun tertentu yang dapat digunakan seterusnya untuk menilai barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun lainnya.
2. Produk Nasional Bruto (GNP)
Gross National Product diperoleh melalui nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun, juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warganegara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut. Seperti pengusaha Jepang yang ada di Indonesia tidak akan dihitung hasil produksinya, tapi orang Indonesia yang ada di luar negeri akan dihitung jumlah penghasilannya baik berupa barang dan jasa.

3. Produk Nasional Netto (NNP)
Net National Product diperoleh dengan cara GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering disebut pula replacement). Replacement adaalah penggantian barang modal atau penyusutan bagi peralatan produksi yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran atau estimasi sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.

4. Pendapatan Nasional Neto ((NNI)
Net National Income adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurangi pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang besarnya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.

5. Pendapatan Perorangan (PI)
Personal Income adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiun, tunjangan sosial bagi penganggguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dsb. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan peseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja.

6. Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Disposable Income adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihknya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. (DI) ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung, pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

Untuk lebih memperjelas uraian di atas, di sini kami gambarkan cara penghitungan pendapatan nasional seperti di bawah ini.
(miliar rupiah)
GDP Rp 156.000,00
Produk yang dihasilkan masyarakat asing di dalam negeri Rp 26.000,00
Rp 130.000,00
Produk yang dihasilkan masyarakat nasional di luar negeri Rp 10.000,00
GNP Rp 140.000,00
Penyusutan dan penggantian barang modal Rp 15.000,00
NNP Rp 125.000,00
Pajak tidak langsung Rp 22.000,00
NNI Rp 103.000,00

Dana sosial Rp 3.000,00
Laba yang ditahan Rp 6.000,00
Pajak perusahaan / perseroan Rp 12.000,00
Rp 21.000,00
Rp 82.000,00
Transfer payment Rp 8.000,00
PI Rp 90.000,00
Pajak langsung Rp 4.000,00
DI Rp 86.000,00
Tabungan (saving) Rp 15.000,00
Pengeluaran konsumsi perorangan Rp 71.000,00

d. Faktor- faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional
a. Permintaan dan Penawaran agregat
Permintaan agregat merupakan hubungan antara seluruh permintaaan barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antar semua penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan dengan tingkat harga tertentu. Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan pula pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional) yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan out put nasional dan menambah pengangguran.
b. Konsumsi dan Tabungan, artinya pendapatan yang diterima oleh konsumen, dikeluarkan untuk membeli barang dan jasa, sisanya untuk ditabung. sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan :
Y = Pendapatan atau yield
C = Konsumsi atau consumtion
S = Tabungan atau saving
Rumus di atas merupakan pendapat dari John Maynard Keynes untuk mengukur pendapatan suatu negara ditinjau dari segi perorangan.
Ada lima faktor yang mempengaruhi pengeluaran konsumsi rumah tangga:
1. Pendapatan
Pendapatan seseorang berpengaruh pada besarnya konsumsi yang dilakukan. Semakin tinggi pendapatan konsumen, konsumsi cenderung meningkat pula. Sebaliknya, jika pendapatan menurun pengeluaran konsumsi juga akan turun.
2. Selera
Masing-masing individu mempunyai selera yang berbeda-beda dalam memilih berbagai jenis barang atau jasa. Ini juga berpengaruh terhadap pola konsumsi. Misalnya, meskipun sesama remaja antara seorang yang satu dengan lainnya akan memiliki selera yang berbeda dalam memilih barang atau jasa konsumsi.

3. Kekayaan
Orang yang memiliki aset kekayaan berupa tabungan atau saham tidak terlalu memperhatikan pengeluaran konsumsi mereka daripada orang yang tidak memiliki kekayaan.
4. Komposisi anggota rumah tangga
Jumlah anggota rumah tangga juga dapat mempengaruhi tingkat konsumsi. Jika dalam suatu keluarga terdapat anggota yang banyak maka tingkat konsumsi juga akan banyak. Sebaliknya, jika hanya terdapat sedikit anggota dalam keluarga maka jumlah konsumsi relatif kecil.
5. Motivasi
Setiap orang memiliki motivasi tersendiri dalam menentukan kegiatan konsumsinya. Ada yang melakukan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Namun, ada pula yang membeli barang hanya karena ikut-ikutan orang lain, padahal sebenarnya ia tidak membutuhkannya. Sebagian lain mengkonsumsi barang atau jasa tertentu demi memperhatikan status sosial atau gengsi. Misalnya, seorang remaja membeli HP terbaru agar dianggap keren oleh temannya.
6. Sikap dan Kepribadian
Sikap dan kepribadian seseorang menjadi tolok ukur perilaku konsumen. Orang yang hemat hanya akan membeli barang-barang yang dibutuhkan saja. Sementara orang yang boros seringkali membeli barang-barang diluar kepentingannya (perhitungannya).
7. Ramalan peruahan harga
Jika masyarakat memperkirakan akan terjadi perubahan harga yang cenderung lebih tinggi, maka mereka akan segera membeli barang tersebut untuk antisipasi dan menghindari kenaikan harga.

► Untuk lebih memperjelas pernyataan di atas, kami mencoba mendukung pernyataan tersebut dengan fungsi konsumsi. Dalam pengertiannya, fungsi konsumsi adalah hubungan antara pengeluaran untuk konsumsi (consumption expenditure) dan pendapatan. Hubungan pendapatan dan konsumsi dirumuskan sebagai berikut:
C adalah konsumsi dan Y sebagai pendapatan bersih. Sedangkan a merupakan tingkat minimum pengeluaran konsumsi pada tingkat pendapatan sebesar nol. Sedangkan b adalah tambahan keinginan mengkonsumsi karena tambahan pendapatan. Selisih tingkat konsumsi sekarang dan sebelumnya dibagi selisih besarnya pendapatan sekarang dan sebelumnya. Misalnya, seseorang sebelum bekerja (berarti Y = 0), pengeluaran seseorang minimal sebesar Rp 500.000 (jadi a = 500.000), maka C=500.000 (konsumsi untuk kebutuhan pokok). Saat sudah bekerja dengan pendapatan bersih Rp 1.500.000 per bulan. Pengeluaran konsumsinya menjadi Rp 1.000.000 sebulan (ada konsumsi tambahan untuk kebutuhan bukan pokok), maka konsumsi orang tersebut:
C = a + bY
= 500.000 + 500.000
= 1.000.000
Model di atas merupakan formula sederhana fungsi konsumsi. Seorang ilmuan Simon Kuznets, dia adalah ahli ekonomi terkenal Amerika Serikat yang mencoba mengolah statistik negaranya untuk mengetahui hubungan antara pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapannya. Ada dua kesimpulan penting dalam penelitiannya bahwa : Pertama, ada perbedaan antara konsumsi jangka panjang dan konsumsi jangka pendek karena keduanya memiliki bentuk yang beda. Kedua, dalam bentuk persamaan standar persamaan fungsi konsumsi dengan C = C0 + cY dengan C0 sebagai tendensi yang meningkat dari waktu ke waktu.
Beda halnya dengan analisis Keynes bahwa fungsi konsumsi adalah relasi antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi yang keduanya menggunakan tingkat harga konstan. Jadi bukan disebabkan oleh pendapatan nasional nominal dan konsumsi nominal. Lebih jelasnya tabel di bawah merupakan konsumsi dan PDB Indonesia tahun 2000-2004 (dalam hitungan triliun rupiah):
Tahun Konsumsi PDB
2000
2001
2002
2003
2004 884
1.340
1.264
1.372
1.532 1.389
1.684
1.898
2.045
2.302
Data dari tabel di atas dapat diestimasikan fungsi konsumsinya seperti dibawah ini:
C = 100 + 0,63Y
100 adalah konsumsi autonomous dan 0,63Y sebagai konsumsi bujuk disebut juga MPC = 0,63. Fungsi ini dapat diperoleh dengan menggunakan regresi linier, stagraf, dan Excel. Angka MPC sebesar 0,63 menunjukkan bahwa setiap PDB naik sebesar 100 triliun maka konsumsi juga akan otomatis naik sebesar 63 triliun. Setelah itu untuk mengetahui MPS hanya mengurangi 1-0,63, jadi MPS hasilnya 0,37.
Dari tabel di atas, kita dapat menganalisa besar konsumsi bujuk (induced), konsumsi, dan tabungan. Sebagai contoh pembahasan di tahun 2003 PDB Indonesia sebesar Rp 2.045 triliun, maka konsumsi, konsumsi bujuk (induced), dan tabungannya adalah?:
Jawab : kita dapat menggunakan estimasi rumus konsumsi yang ada di atas. Adapun proses penyelesainnya sebagai berikut.
C = 100 + 0,63Y
C = 100 + 0,63 (2.045) angka 2.045 adalah PDB tahun 2003
C = 100 + 1.288, angka 1.288 merupakan jumlah konsumsi bujuk
C = 1.388
Dari pekerjaan di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat PDB Indonesia sebesar 1.388 triliun. Setelah itu kita jabarkan tabungannya.
Diketahui : 1- 0,63 (MPC) = 0,37 (MPS)
Jadi S = -100 + 0,37Y
= -100 + 0,37 (2.045)
= -100 + 757
= 657

Lebih sederhananya, kami sajikan dalam bentuk tabel hasil penghitungan di atas, sebagai berikut:
Tahun PDB Autonomous Induced
Konsumsi Tabungan
2003
2.045 100
1.288 1.388 657

Kita telah mengetahui bagaimana kegiatan konsumsi dilakukan, jika bicara tentang konsumsi maka kita juga harus memikirkan tabungan (saving). Tabungan itu terjadi seiring dengan kelebihan konsumsi. Seperti yang kita ketahui bahwa konsumsi lebih besar dibandingkan dengan tabungan.
Sebagai contoh, diketahui fungsi konsumsi C = 10 + 0,75Y. carilah persamaan fungsi tabungannya, berapa besarnya konsumsi pada saat tabungan = 0?
Jawab :
Dari rumus dasarY = C + S
S = Y – S
= Y – ( 10 + 0,75Y)
= Y – 10 – 0,75Y
= 0,25 Y – 10
Pada saat tabungan = 0, maka besar pendapatan:
0 = 0,25Y – 10
-0,25Y = -10
Y = -10 / - 0,25
Y = 40
Jadi, besarnya konsumsi pada saat tabungan = 0 adalah
C = 10 + 0,75Y
= 10 + 0,75 (40)
= 40

►Adanya hubungan positif antara konsumsi dan pendapatan di atas akan menyebabkan kecenderungan mengkonsumsi marjinal atau marginal propensity to consume (MPC). Meskipun masalah MPC sedikit dibahas di atas, namun masih akan diuraikan lebih jauh mengenai kecenderungan mengkonsumsi. Arti marjinal sendiri adalah ‘tambahan’ atau ‘ekstra’. Jadi hal tersebut terjadi karena adanya kenaikan pendapatan dan berakibatt kenaikan pada kegiatan konsumsi. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
MPC adalah tambahan mengkonsumsi seseorang (tambahan), ▲C sebagai perubahan konsumsi, dan ▲Y sebagai perubahan pendapatan.
Contoh : Jika pendapatan seseorang naik dari Rp 2 juta menjadi Rp 2,5 juta dan konsumsinya naik dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 1,7 juta, maka konsumsi marjinalnya adalah: MPC = ▲C / ▲Y
▲C = C2 - C1 1,7 – 1,5
▲Y = Y2 - Y1 2,5 – 2
Hasilnya = 0,4
Anggka MPC sebesar 0,40 menunjukkan bahwa setiap pendapatan naik sebesar 1% maka konsumsi juga akan naik sebesar 0,40%. Dan juga sebaliknya jika pendapatan turun sebesar 1% maka konsumsi juga akan turun sebesar 0,40%.
Berdasarkan rumus MPC di atas, jika mengkonsumsi sebesari 0,4 maka tabungan atau saving (MPS / marginal prospensity to saving) akan menjadi 0,6. angka ini diperoleh sebab, MPC + MPS = 1, maka apabila ditanya MPS dan MPC sudah diketahui maka tinggal mengurangi saja. 1 – MPC = MPS atau sebaliknya 1 – MPS = MPC. Angka MPS sebesar 0,6 menunjukkan apabila pendapatan naik sebesar 1% maka tabungan akan naik sebesar 0,60%. Sebaliknya jika pendapatan turun sebesar 1 % maka tabungan juga akan turun sebesar 0,60%.
Selain MPC dan MPS yang merupakan marjinal “tambahan”. Kita juga dihadapkan dengan masalah APC yaitu Average Prospensity to Consume yaitu hasrat untuk mengkonsumsi rata-rata. Artinya APC merupakan hubungan perbandingan (rasio) konsumsi dan pendapatan dapat dikatakan tingkat konsumsi.
Adapun formulanya sebagai berikut, APC = C/Y. dan perlu diketahui bahwa APC selalu bernilai positif. Selanjutnya APS (Average prospensity to saving). Adalah hubungan antara pengeluaran tabungan dan pendapatan disebut pula tingkat tabungan. Rumusnya, APS = S/Y.
Keterangan :





Tabel di bawah ini merupakan nilai rasio antara MPC, MPS, APC, dan APS.








3. Investasi, artinya barang-barang yang dihasilkan terdiri dari barang-barang konsumsi dan barang-barang modal, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan :
Y = income atau pendapatan
C = condumtion atau konsumsi
I = investment atau investasi
Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi tingkat investasi suatu perusahaan yaitu suku bunga dan prospek keuntungan. Suku bunga yang rendah akan mendorong pelaku usaha untuk memperluas investasi mereka, sebaliknaya suku bunga yang tinggi akan melemahkan investasi mereka. Selain itu, optimisme terhadap prospek keuntungan akan merangsang perluasan dunia usaha, saat seseorang yakin akan meraih keuntungan yang banyak maka ia akan terus menambah investasinya. Namun sebaliknya, psimisme terhadap prospek keuntungan akan menyurutkan usaha.
Investasi yang dipengaruhi oleh suku bunga disebut investasi autonomous atau autonomous investment, sedangkan investasi yang bergantung pada pertumbuhan ekonomi disebut investasi bujuk atau induced investment.

Contoh :
Jika diketahui fungsi konsumsi C = 20 + 0,75Y, carilahpersamaan fungsi investasi dan berapakah besarnya konsumsi pada saat investasi =10 ?
Jawab :
Dari persamaan Y = C + I dapat dicari persamaan fungsi investasi
I = Y – C
10 = Y – (20 + 0,75Y)
10 = Y – 20 – 0,75Y
10 = 0,25Y – 20
30 = 0,25Y
Y = 30 / 0.25
= 120
Jadi, besarnya konsumsi pada saat investasi = 10 adalah
C = 20 + 0,75Y
= 20 + 0,75 (120)
= 20 + 90
= 110
Keterangan, jika pendapatan berubah maka konsumsi dan investasi juga akan berubah sesuai dengan prinsip “marjinal” seperti yang dijelaskan di atas.

e. Metode pengukuran pendapatan nasional
Pendapatan negara dapat diukur dengan tiga pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu priode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
Contoh soal, (sumber : soal olimpiade ekonomi se-kabuparen tahun 2008)
Di bawah ini merupakan jumlah pendapatan nasional.
Dalam satuan dolar
- Government exspenditure 110.500
- Wages 85.000
- Society exspenditure 240.000
- Interest 75.200
- Export 45.200
- Import 40.000
- Rent 90.000
- Profit 90.800
dari data tersebut carilah pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan pendapatan.
Jawab : Y = r + w + i + p
= 90.000 + 85.000 + 72.200 90.800
= 341.000
Jadi dengan menggunakan metode pendekatan pendapatan dapat diperoleh pendapatan nasional sebesar 341.000 dollar.

2. Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstratktif, jasa, dan niaga selama satu priode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi)
Adapun pembagian sektor ekonomi sebagai berikut:
- sektor pertanian : peternakan, kehutanan, dan perikanan
- sektor pertambangan dan galian
- sektor industri pengelolahan
- sektor listrik, gas, dan air bersih
- sektor bangunan
- sektor perdagangan, hotel, dan restoran
- sektor pengangkutan dan komunikasi
- sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
- sektor jasa-jasa
Jenis-jenis barang dalam sektor perekonomian bermacam-macam antara yang satu dengan lainnya, maka digunakan satuan yang sama yaitu harga atau uang.
↔ Contoh soal, Diketahui:
a. Nilai Tambah Semua Sektor = 900 satuan
b. Penyusutan Barang Modal = 90 satuan
c. Upah dan Gaji = 600 satuan
d. Ekspor = 360 satuan
e. Peng. Pemerintah Untuk Pembelian Barang dan Jasa = 200 satuan
f. Laba Perusahaan = 300 satuan
g. Pajak Tidak Langsung = 150 satuan
h. Investasi Domestik Bruto = 250 satuan
I. NI Terhadap Luar Negeri dan Faktor Produksi = -40 satuan
j. Pengeluaran Konsumsi Sektor Rumah Tangga = 500 satuan
k. Impor = 170 satuan
l. Pengeluaran Subsidi Pemerintah = 75 satuan
Ditanya:
1. Hitung PDB atas dasar harga produksi
2. Hitung PNB atas dasar harga pasar
3. Hitung besarnya Pendapatan Nasional
Jawab:
1. PDB/PDP = C + G + I + ( X – M )
= 500 + 200 + 160 + (360 – 170)
= 9 25

2. PNB = PDP + NI Terhadap Luar Negeri dan Faktor Produksi
= 925 + (-40)
= 885

3. PNN = PNB – Penyusutan/Depresiasi
= 885 – 90
= 795
PN = PNN – PTL + S
= 795 – 150 + 75
= 645 + 75
= 720

3. Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu priode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara RT (konsumsi) pemerintah (government), pengeluaran investasi (investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (X-M).
Contoh (sumber : soal olimpiade sains propinsi OSP ekonomi tahun 2006)
National Income data (in billion rupiah) from a country are as follow :
- Househould consumtion Rp 1.500
- Investment Rp 2.500
- Government expenditure Rp 4.000
- Revenue Rp 1.050
- Wages Rp 700
- Rent Rp 100
- Saving Rp 2.500
- Company profit Rp 4.450
- Export netto Rp 1.200
The amount of national income interm of expenditure approach are……
Jawab :
Yang ditanya dari soal di atas adalah pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran.
Y = C + I + G + (X-M)
= 1.500 + 2.500 + 4000 + 1.200
= 9.200
Jadi besar pendapatan nasional dengan menggunakan metode pendekatan pengeluaran sebesar Rp 9.200 milyar.

f. Keterbatasan menghitung pendapatan nasional
Ada beberapa keterbatasan saat menghitung pendapatan nasional :
Pertama, penghitungan pendapatan nasional hanya mencatat harga barang dan jasa yang terjadi di pasar. Padahal, masih banyak transaksi produktif lainnya yang dihasilkan tanpa melalui pasar. Misalnya : kerja bakti untuk memperbaiki selokan.
Kedua, dilihat dari PDB yang tidak dapat membedakan komposisi barang dan jasa yang diproduksi, apakah termasuk barang militer, atau barang ekonomi. Contohnya : produksi barang konsumsi yang lebih banyak dibanding barang militer akan mencerminkan kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, perbaikan mutu barang dan menikmati waktu santai yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat tidak tercermin dalam menghitung pendapatan nasional.
Keempat, PDB tidak menghitung pencemaran udara oleh pabrik yang dapat menurunkan kualitas kesehatan hidup masyarakat sekitar pabrik.
Kelima, GDP tidak mencermminkan pembagian pendapatan yang lebih merata dalam masyarakat.

g. Manfaat
Selain untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu priode, perhitungan pendapatan nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk menentukan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu negara setiap tahun. Cara menghitungnya adalah sebagai berikut : g = PNriil1 – PNriil0
PNriil0
Keterangan :
g = Pertumbuhan ekonomi (%)
PNriil1 = pendapatan nasional untuk tahun dimana pertumbuhan ekonomi dihitung.
PNriil0 = pendapatan nasional untuk tahun sebelumnya.
Pendapatan nasional juga mengkaji struktur perekonomian nasional. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa. Contohnya, berdasarkan perhitungan pendapatan nasional dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara pertanian atau agraris, Jepang merupakan negara industri, Singapura termasuk negara yang unggul di sector jasa, dan sebagainya.
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonimian terhadap pendaptan nasional, misalnya sector pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomuan dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antara negara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijkan pemerintah.



*diajukan guna memenuhi tugas Pengantar Ilmu EKonomi





























DAFTAR PUSTAKA

Tim abdi guru, EKONOMI SMA UNTUK KELAS XI. Jakarta : Erlangga, 2004

Tim pengajar dan asisten luar biasa, 2006. BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM EKONOMI MAKRO. Fak.Pertanian Univ Jember.

Reksoprayitno, Soediono. EKONOMI MAKRO. Yogyakarta : BPFE

Hartono, Tony. Mekanisme Ekonomi dalam Konteks Ekonomi Indonesia. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Ph.D, Nopirin. Ekonomi Moneter Buku II. Yogyakarta : BPFE

Sukirno, Sadono. MAKROEKONOMI edisi ke-III. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar